*Refleksi Hari Air Se-Dunia (22/3) oleh Deindra Daya Islamil

images

Air untuk kehidupan

Air (H2O) merupakan bahan esensial dan urgent bagi semua makhluk hidup, terutama bagi kehidupan manusia. Beragam hajat manusia senantiasa berhubungan dengan keberadaan air. Sehingga tidak dapat dibayangkan apa jadinya kalau kehidupan makhluk hidup tanpa ketersediaan air yang cukup. Tentunya kita mengetahui, dengan air, tumbuh-tumbuhan dapat mengambil manfaatnya sehingga menghasilkan buah yang enak dan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Dan, dengan air pula lah hewan-hewan dapat mengambil manfaatnya, sehingga dapat kita nikmati hasilnya.

Bagi manusia, air tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa apapun. Tubuh manusia sendiri, tersusun dari 65% air dan sekitar 47 liter air terdapat pada orang dewasa. Setiap harinya 2,50 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti, 1,50 liter berasal dari air minum dan sekitar 1 liter berasal dari makanan yang dikonsumsi. Dengan terpenuhinya kebutuhan ini, maka seluruh proses metabolisme dalam tubuh manusia bisa berlangsung dengan lancar. Sebaliknya, jika kekurangan air, maka proses metabolisme dapat terganggu. Oleh karena itu, menyadari peranan air yang begitu vital untuk kehidupan, mungkin kita dapat berinstropeksi bahwa air merupakan benda paling berharga di dunia.

Hari air sedunia

Air sebagai benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami penurunan kualitas dan persediannya sudah sampai pada tahap yang kritis. Bukan hanya di Indonesia yang mengalami masalah air ini, tapi masyarakat dunia pun sedang menghadapi persoalan yang sama. Penurunan kualitas dan persediaan air akibat tercemar limbah, seperti limbah industri, limbah rumah tangga, dan limbah yang lainnya. Atas sebab itu, sebaiknya kita melakukan tindakan yang drastis untuk menyelamatkan air di dunia.

Beberapa waktu yang lalu, bertepatan dengan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 maret  yang lalu, di kawasan Bank Indonesia Jambi, para aktivis lingkungan hidup melakukan kegiatan Kampanye Peduli Air yang mengajak segenap lapisan masyarakat peduli pada upaya penyelamatan air. Kegiatan dalam rangka Hari Air Dunia tersebut diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan keterkaitan air dan budaya, dengan tujuan penyelamatan air yang diharapkan dengan upaya konservasi sumber daya air dan juga pemanfaatan air yang hemat dan efisien. Hal ini tentunya terasa perlu untuk dilakukan mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang sangat vital bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas. Hal ini karena faktanya adalah jumlah total air yang ada di bumi saat ini relatif sama dengan saat bumi ini tercipta. Yang berubah adalah bentuk air tersebut dalam siklus air yang berlangsung terus menerus. Jadi air yang dipakai oleh Sultan Thaha untuk mandi, bisa jadi sama dengan air yang anda pakai untuk minum.

Selain itu, perbedaan antara tingkat pemakaian air di negara kaya dan negara miskin juga semakin terlihat.  Buktinya, 1,2 milyar penduduk di negara miskin tidak mempunyai akses air bersih dan fasilitas sanitasi dasar yang memadai. Peringatan Hari Air Dunia merupakan wahana untuk memperbaharui tekad untuk melaksanakan Agenda 21 yang pernah dicetuskan di tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environtment and Development (UNCED) atau Earth Summit yang diselenggarakan di Rio de Janeiro. Earth Summit sendiri merupakan tonggak penting , tetapi dimensi sosial dan lingkungan agenda dunia mengenal air baru mulai terbentuk pada tahun 1972 atau 2 tahun setelah Hari Bumi dicanangkan. Namun untuk tetap menopang tonggak yang penting tersebut mestilah dibutuhkan kesadaran dan kepedulian dari seluruh masyarakat dunia agar pelestarian sumber daya air dapat dilakukan secara kontinyu. Maka dari itu, kita sebagai makhluk hidup yang 70%-nya terdiri dari air sudah semestinya menyadari bahwa air mempunyai peranan yang sangat vital. Dan air pun merupakan SDA yang memenuhi hajat khalayak dunia, sehingga perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu, mari kita selamatkan air mulai saat ini.

Bagaimana Caranya?   

Masalah air memang terus menerus menjadi problematika yang sulit dipecahkan. Penghematan air pun sulit dilakukan karena merasa bahwa air adalah sesuatu yang terus menerus ada dan tidak akan habis. Padahal kenyataannya total volume air di Bumi  sama dengan saat bumi ini tercipta. Dari hal ini tentunya kita mengetahui kalau total volume air ternyata sama sejak dulu sedangkan jumlah manusia di bumi mengalami penambahan, sehingga apabila tidak segera diambil tindakan, jelas yang akan tejadi adalah krisis air global. Maka dari itu sebagai tindakan preventif, kita sebagai makhluk hidup yang senantiasa membutuhkan air merasa perlu untuk menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengurangi pencemaran tehadap air, sekuat tenaga kita membuang sampah pada tempat yang semestinya, jangan membuang sampah ke selokan. Menanam kembali pohon-pohon yang dapat menyerap air dan menyimpan air. Selain kita menyelamatkan persediaan air (kuantitas) kita juga perlu mempertimbangkan dan memperbaiki kualitas airnya. Sehingga kita dapat mengelola sumber daya air dengan baik sesuai dengan undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004 yang berlaku di Indonesia, yakni UU nomor 7 tahun 2004.

Meskipun demikian, hal yang paling mendasar dalam mengatasi problematika air ini tak lain adalah sebuah integritas dan suatu konsistensi. Tanpa terdasari atas integritas dan konsistensi yang kita miliki sebagai makhluk hidup yang berprinsip, niscaya jalan keluarnya tak bisa terpecahkan. Demikian pula dengan tulisan ini, yang hendak mengungkapkan suatu yang urgent di balik sumber daya air di bumi, sebab hanya dengan mengungkapkan, kita bisa melakukan apa yang perlu untuk menyelamatkan sumber daya air kita yang cukup krisis. Jadi tunggu apalagi, save our blue water!
(Selamat Hari Air Se-Dunia)

Tulisan ini Terbit pada Harian Pagi Jambi Independent edisi 25 Maret 2011